Minggu, 20 Februari 2011

Kamulah Orangnya Part 2

Haloo..aku mau lanjutin kamulah orangnya. Langsung aja ya.. Ini dia part 2 nya..
Cekidot !

>>>>>>>>>>>>>>>> 

Ify menghela nafas, “Huhhh…Iya deh !”

Setelah mereka makan, Shilla, Agni, dan Via langsung mengelilingi Ify.

“Loe sebenernya punya masalah apa’an sih ?” tanya Shilla penasaran.

“Dulu, gue punya temen namanya Septian…...

>>FLASH BACK<<

“IFYYYYY !!!” teriak Septian sambil berlari ke arah Ify yang sedang duduk di taman sekolah.

“SEPTIANNN !!! Gak usah teriak2 gitu napa ? Kangen loe ma gue ?” sungut Ify dengan Pe-De.

“Ye…Ge-er loe, Fy ! Najong dah gue kangen sama loe !” balas Tian sadis.

“Ahhh…Tian gitu ya…” rengek Ify.

“Aihhh...Kumat dah manjanya !” canda Tian.

“Huh !” Ify cemberut.

“Iye…iyee…gak usah cemberut napa sih ? Jelek tau !” ujar Tian smabil mencubit pipi Ify.

“Sakitt !!! Udah ah, Yan bercandanya. To the point deh ! Loe ngapain tadi manggil gue ?” tanya Ify.

“Jadi gini, tadi pagi gue liat brosur lomba piano sambil menyanyi. “

“Lha terus ? Apa hubungannya sama gue ?”

“Yaelah, Fy. Ya loe harus ikut. Gue yakin loe pasti menang kok !”

“Kok loe bisa yakin sih kalo gue bakal menang ?” tanya Ify.

“Karena loe cuma perlu mainin lagu Through The Years. Lagian loe udah sering banget kan denger lagu itu ?” ucap Septian yakin.

“Harus gue bilang berapa kali sih ? Gue gak mau mainin lagu itu ! Loe juga tau itu kan, Yan ? Gue BENCI lagu itu ! Dan gue gak akan pernah mainin lagu itu.” tegas Ify.

“Fy… Gue mohon ! Loe ikut ya… Gue yakin ! Loe gak bakalan bisa lupain lagu itu. Seberapa pun bencinya loe sama lagu itu, lagu itu terlalu banyak kenangannya buat loe. Ayolah, Fy…Please… Gue mohon loe mau mainin lagu itu buat gue pas lomba. Fy…gue mohon…” ucap Septian dengan nada memelas.

Ify yang gak tega liat Septian memelas, ia pun menyetujuinya. “Loe bener. Oke. Tapi gue maunya setiap latihan loe selalu ada di samping gue buat nyemangatin gue. Gimana ?” pinta Ify.

“Gue gak bisa janji, Fy. Maaf.” gumam Septian.

“Hah ? Loe barusan ngomong apa’an ?” tanya Ify yang mendengar ucapan Septian tadi.

“Oh itu…latihannya 1 minggu sekali aja ya ?”

“Oke. No problem. Hari Minggu jam 9 pagi sampe’ jam 11 siang. Janji ?” ucap Ify, tanpa bertanya pada Septian.

“Aduh ! Mati deh gue. Jamnya tabrakan nih ! Gimana donk ?” batin Septian bingung.

“Fy, hari Sabtu aja ya ? Jam 3 sore sampe’ jam 5 sore. Mau ya ?” tawar Septian.

“Guenya yang gak bisa. Klo sabtu gue ada les jam segitu.” Kata Ify.

“Yaudah deh ! Lombanya 7 minggu lagi dari sekarang.Janji.” Septian mengalah.

Setiap minggu Septian selalu mendampingi Ify dalam latihan. Ify yang memiliki kenangan pahit dengan lagu itu, otomatis membuat Ify sangat kaku dan terbayang-bayang akan kenangan itu. Ify yang sudah terbisa bermain piano, malah terlihat baru memegang piano saat memainkan lagu ini.Namun, Septian selalu memberi semangat kepada Ify.

“Ayo, Fy ! Loe pasti bisa !” ucap Septian.

“Oke. Gue bakal coba lagi.” kata Ify dengan mantab.

Setiap minggu, Ify berhasil menguasai 1 bait lagu dari total 6 bait yang ada.. Hingga pada minggu ke-lima, Septian tak muncul di rumah Ify.

“Haduh !!! Septian kemana sih ? Kok gak muncul-muncul ? Udah jam 11 siang juga !” sungut Ify.

Dari tadi Ify tak berhenti modar-mandir di depan pintu menunggu Septian. Tangannya tak berhenti mengirimkan sms dan menelepon Septian. Tapi tetap saja tak ada satupun sms yang di balas dan telepon yang diangkat.

‘Maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.’ Jawab operator, ketika Ify mencoba menelepon Septian .

“Aelahhh…dari tadi operator mulu yang jawab ! Sebel gue !” ucap Ify jengkel.

Ify memutuskan untuk pergi ke rumah Septian. Sesampainya di rumah Septian.

“Bik Nina. Septiannya ada gak ?” tanya Ify. Kebetulan Bik Nina sedang menyapu halaman.

“Lha ? Kok non ada disini ? Bukannya den Septiannya lagi di rumah sakit ya ?” ujar Bik Nina bingung.

“Hah ? Rumah sakit ? Siapa yang sakit bik ?” cerca Ify.

“Iya. Ya den Septian lah non…Perasaan mulai dari kemarin deh masuk rumah sakitnya. Emangnya non gak diberitahu ?” tanya Bik Nina. Ify hanya menggeleng .

“Bik Nina tau gak Septian di rawat dimana ?” tanya Ify panik.

“Kalo gak salah di Medical Center, non.” Jawab Bik Nina.

“Yaudah deh, Bik. Makasih ya…Ify mau jengukin Septian dulu. Permisi.” Ucap Ify. Setelah itu Ify segera berlari menuju rumah untuk mengambil mobil dan segera pergi ke Medical Center Bandung. *ceritanya rumahnya Ify deket sama rumahnya Septian.

Sesampainya di Medical Center, Ify segera mencari kamar Septian. Ify sangat panik begitu mengetahui bahwa Septian sakit. Bagaimana tidak ? Septian selama ini jarang sekali sakit. Kalo pun sakit gak pernah sampai masuk rumah sakit seperti sekarang ini.

Ify segera memasuki kamar VVIP Anggrek nomer 217. Ify melihat Septian tergolek lemah tak berdaya, tak seperti Septian yang selama ini ada di samping Ify…Septian yang kuat, Septian yang selalu ada jika ia butuh, Septian yang selalu mendukungnya. Air mata Ify sudah tak terbendung lagi.

“Ify…” sapa Tante Ria lesu. Wajahnya kusut dan acak-acakan ditambah lagi matanya yang bengkak, karena terlalu banyak menangis. Ify yang sudah menganggap mama Septian sebagai mamanya sendiri, segera memeluk Tante Ria.

“Te…Septian kenapa ?” tanya Ify sesegukan di pelukan Tante Ria.

“Maaf, Fy. Tante gak sempet ngabarin kamu kalo Septian masuk rumah sakit. Septian itu kena penyakit kanker lambung stadium akhir. Umurnya diperkirakan gak lama lagi. Kemarin dia nge-drop banget.” Ungkap Tante Ria.

“Hah ? Kan..kanker lambung, Te ? Stadium akhir ?” tanya Ify meyakinkan pernyataan Tante Ria. Tante Ria hanya menganggukkan kepala pelan.

“Mulai kapan ? Kenapa Ify gak diberitahu ?” tanya Ify sambil mengguncangkan bahu Tante Ria.

“Septian divonis mulai 6 minggu yang lalu. Septian emang gak mau memberitahu kamu, Fy. Dia mohon sama tante jangan sampe’ kamu tau tentang hal ini. Dia gak mau bikin kamu sedih.” Ungkap Tante Ria.

“6 minggu yang lalu ? Berarti seminggu sebelum Septian memberitahu gue kalo ada lomba piano. Pantes aja dia maksa gue buat ikut.” Batin Ify.

Ify berjalan menuju ranjang Septian.

“Tian…” gumam Ify. “Tian…bangun donk !!! Jangan tinggalin gue sendiri !!! Loe jahat !!! Mana janji loe ? Lombanya masih 3 minggu lagi ! Dan gue belum bisa nguasain 2 bait terakhir ! Gue gak mau klo loe gak ada di samping gue. Please…Loe bangun donk !” teriak Ify sambil menggenggam tangan Septian.

“Te…Septian ikut kemo gak ?” Ify menoleh kepada Tante Ria.

“Dia ikut kemo kok, Fy. Cuma gak tau kenapa 4 minggu terakhir ini, dia kalo kemo gak mau dianter sama tante. Dia maksa gak usah dianter dan dia maunya naik angkutan umum.”jelas Tante Ria.

“Emangnya jadwal kemonya Septian kapan ?” tanya Ify penasaran.

“Setiap hari Minggu jam 9 pagi sampe’ jam 11 siang. Tapi kemarin dia nge-drop banget. Setelah tante tanya ke dokter, Septian udah 4 minggu gak kemo lagi.” Jawab Tante Ria.

‘DEG !’ “Ja…jadi…Septian rela gak kemo demi nemenin gue latihan, supaya gue bisa ikut lomba ?” Ify kaget bukan kepalang.

“Tian !!! Please…loe bangun donk !!” ungkap Ify setengah berteriak, air mata yang tadinya sudah berhenti kembali keluar. Ify tertunduk lemas. Tiba-tiba…tangan Septian bergerak. Ify tersentak.

“Tian ! Te, tangannya Septian bergerak.” Seru Ify.

“Hah ? Sebentar ya, tante mau panggil dokter dulu ya…” ucap Tante Ria sambil berlalu keluar kamar.

Tak lama kemudian, Tante Ria datang bersama seorang dokter dan seorang suster. Ify dan Tante Ria keluar kamar dan menunggu hasil pemeriksaan.
 
Sekitar 10 menit kemudian. Dokter dan suster tersebut keluar. Tante Ria dan Ify segera mengerubungi dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan Septian, dok ?” tanya Ify.

“Septian sudah melewati masa kritisnya. Dia udah siuman, tapi kondisinya masih sangat lemah, kondisinya kemarin bener-bener drop banget.Saya permisi dulu ya.” Kata dokter.

“Iya, dok. Makasih ya, dok.” Ucap Tante Ria.

Ify dan Tante Ria segera masuk ke kamar. Ify segera berlari ke samping ranjang Septian.

“Tian ! Kenapa loe gak bilang ke gue klo loe sakit ? hah ?! Loe nganggep gue apa selama ini ?” ucap Ify sesegukan disamping Septian.

“Sorry, Fy. Gue gak mau bikin loe sedih. Makanya sebelum gue ninggalin loe, gue mau………” belum selesai Septian berbicara.

“STOOPPP !!! GAK USAH DILANJUTIN !!!” teriak Ify sambil menutup kedua telinganya.

“Tapi, Fy….” Ujar Septian.

“Udahlah, Yan. Gue gak mau denger apa-apa dari loe !” potong Ify. “Pokoknya gue mau loe sembuh ! Loe harus sembuh !” tegas Ify.

“Gue gak yakin, Fy. Capek, Fy…Capek ! Berat rasanya harus ngelawan penyakit ini. Lagian ini juga udah stadium akhir. Kemungkinan sembuh gak sampe’ 50 %.”

“Yan…please…loe bertahan buat gue ya ? Ntar kalo loe pergi gue sama siapa ?” Ify sesegukan, ia menatap nanar Septian.

Tian melegos. “Fy, jangan tatap gue kayak gitu.”

“Terserah apa kata loe deh ! Pokoknya gue mau nemenin loe sampe’ sembuh ! TITIK !” ujar Ify.

“Tapi Fy……”

“Gausah komentar deh ! Mending loe makan habis itu tidur !” ucap Ify garang. Ify menyuapi Septian, setelah itu Septian tertidur. Karena capek, Ify juga tertidur.

Tiba-tiba…

“Arghhh…” rintih Septian tiba-tiba. Ify, yang mendengar rintihan Septian segera terbangun.

“Kenapa, Yan ?” tanya Ify panik, Tante Ria sedang pulang.

“Sa..kiitt.. Fy…” ucap Tian terbata-bata sambil memengang perutnya.

“Bentar ya, Yan. Gue mau panggil dokter dulu !” tangan Ify langsung di tahan oleh Septian.

“Ma…maaff…gu..gue…gak bi…sa…ngaajarin…loe…lagii… Ga…bi..saa… jaga..in lo..e la..gii… ”

“Udahlah… gak usah ngomong kayak gitu. Tunggu bentar gue mau panggil dokter dulu.” Air mata Ify sudah tak terbendung lagi, dia gak siap klo harus kehilangan Septian sekarang.

“Gak..uu..sahh..gu..gue….capekk…ma..uu..tidurrr…Sa..sampein…sa..lam..gu..gue..buat…semua..nya…Ja…ngan lupa…in…gue.. Ini…bu…buat…loe !” Septian memberikan gelang kesayangnnya kepada Ify, kemudian menutup matanya.

“SEPTIANNNNNNN !!!!!!!” jerit Ify. Dokter yang kebetulan lewat segera masuk.

“Mohon anda keluar dulu !” perintah dokter. Dengan lemas, Ify keluar. Air matanya tak berhenti keluar.

“IFY !” teriak tante Ria. Ify menoleh dan segera berlari menuju pelukan Tante Ria.

“Te…Septian te…” ucap Ify sesegukan.

“Tian kenapa, Fy ?” Tante Ria panik.

“Tian nge-drop lagi…”

“Yaudah, sekarang kita berdo’a aja biar Tian baik-baik aja !” Tante Ria mencoba tenang.
Tak lama kemudian…Dokter keluar dengan lemas.

“Gimana dok ?”tanya Ify. Menggeleng. Dokter hanya menggeleng.

“Gak…gak mungkin…GAK MUNGKIN !!!!!! SEPTIAAAANNNN !!!!” teriak Ify terduduk lemas. Ify tidak mengikuti lomba piano tersebut. Malah, Ify semakin membenci lagu itu.

>>FLASH BACK END<<

“Dan hari ini adalah tepat 6 bulan kematian Septian. Gelang ini adalah gelang yang Tian kasih sama gue, gelang ini selalu gue pake’ kemapun.” Ucap Ify. Ify menangis mengingat masa itu. Shilla, Via, dan Agni terenyuh mendengar kisah Ify.

“Sorry, Fy. Kita gak maksud bikin loe nangis.” Ujar Via merasa bersalah.

“Udahlah gak apa-apa kok !” kata Ify sambil mengusap air matanya

“Jadi karena ini Ify menjadi pemurung, cuek, dan dingin !” pikir Via.

“Eh, udah sore ! Gue pulang dulu ya…” ujar Ify.

Setelah berganti baju lagi, Ify segera pulang ke rumah. Sedangkan Shilla dan Agni memilih menginap di rumah Via. Kebetulan rumah Via dan Ify Cuma beda beberapa blok.

Di tengah jalan, Ify melamun hingga ia tak konsentrasi. Ia menabrak sekumpulan anak cowok yang sedang bercanda.

‘BRUKK !!!’ Ify terjatuh, ia segera berdiri dan mengucapkan maaf kepada yang ia tabrak. Tanpa melihat siapa yang dia tabrak. Cowok yang ia tabrak hanya mengumpat tak jelas, bajunya kotor karena terkena genangan air disekitar situ.

“SHIT !!! Kurang ajar tuh cewek ! Cuma minta maaf dan gak noleh sedikit pun !” umpat cowok tersebut.
“Tuh anak bukannya satu sekolahan ya sama kita-kita ?” ujar seorang cowok sambil menatap punggung Ify yang sudah berlalu.

“Loe bener ! Seragamnya memang seragam Tunas Bangsa !” ujar cowok lain.

“Kok gue belum pernah liat dia ya ?” tanya seorang cowok lainnya lagi.

“Oke ! Dia udah mempermaluin gue ! Liat aja. Besok dia juga bakalan malu !” ujar si cowok yang ditabrak oleh Ify.

“Yaudah. Sekarang kita main yuk !” ujar seorang lainnya.

“Gak ah ! Gue udah ga mood, gue mau pulang aja ! Mau ganti baju, kotor banget !”

“Yaudah !” mereka segera kembali ke rumah sang leader.

>>>>>>>>>>>>>>>> 

Akhirnya !!! Selesai juga part 2nya.

Maaf ya kalo jelek. Kan masih amatiran.

Tungguin terus ya ‘KAMULAH ORANGNYA Part 3

Komen, kritik, dan saran tullis aja yah ! Penulis selalu menunggu.

Jgn lupa follow my twitter : @auliianaa

Add my facebook : aulianamaharanie@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

For Everything | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates